Kenapa Marketing Mixue Tidak Pernah Menggunakan Influencer Besar? Ini Alasannya!
1. Marketing Berbasis “People Power”
Strategi Mixue berfokus pada kekuatan pengguna biasa (user-generated content), bukan selebriti. Konten-konten tentang Mixue banyak bermunculan dari masyarakat secara organik: mulai dari meme, TikTok lucu, vlog, hingga review jujur. Karena tidak dibuat-buat, konten ini terasa lebih autentik, membuat orang percaya dan penasaran untuk mencoba sendiri.
Mixue berhasil membuat konsumennya menjadi “influencer sukarela” karena produk mereka murah, konsisten, dan mudah divisualisasikan. Siapa pun bisa jadi bagian dari promosi Mixue hanya dengan posting satu foto es krim dengan caption lucu.
2. Maskot dan Musik Sebagai “Brand Ambassador”
Alih-alih menyewa influencer manusia, Mixue menciptakan maskot salju berkepala bulat dan jingle ikonik sebagai wajah brand. Ini menjadi elemen promosi yang sangat kuat — anak kecil pun hafal lagu Mixue. Bahkan orang dewasa pun sering dibuat “terngiang-ngiang” setelah mendengar lagu tersebut. Inilah bentuk influencer yang tidak hidup, tapi punya dampak luar biasa.
3. Marketing Lokal Lewat Pembukaan Gerai Baru
Setiap kali ada pembukaan gerai baru, Mixue sering mengadakan promo lokal seperti diskon, giveaway, atau free ice cream. Biasanya, pemilik franchise sendiri yang melakukan promosi kecil-kecilan di komunitas lokal. Strategi ini membuat Mixue lebih dekat dengan masyarakat ketimbang sekadar muncul di timeline dengan wajah artis terkenal.
4. Viral Lewat Sindiran Sosial
Mixue juga “beruntung” menjadi bagian dari meme dan sindiran sosial, seperti “Mixue lagi Mixue lagi”, atau “tiap 500 meter pasti ada Mixue”. Meski terkesan bercanda, sebenarnya ini adalah bentuk promosi gratis dari masyarakat. Alih-alih tersinggung, Mixue justru membiarkan fenomena ini tumbuh, karena mereka tahu bahwa viralitas itu mahal — dan mereka mendapatkannya secara cuma-cuma.

Comments
Post a Comment